Tingkah laku terpuji
PENDAHULUAN
Akhlak adalah sifat yang tumbuh dan berlaku dalam diri seseorang. Bagi umat islam akhlak terpuji (mahmudah) adalah seperti apa yang ada pada diri nabi muhammad SAW. Karena sifat-sifat dan perangai yang terdapat pada diri nabi adalah sifat-sifat yang terpuji. Dan merupakan uswatun hasanah bagi kaum muslimin. Sebagaimana kita ketahui bahwa dalam kehidupan kita sering mendengar kata akhlak. Akhlak yang dimaksud di sini adalah akhlak sebagai tata atau norma dalam berperilaku dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karean itu memahami akhlak adalah masalah yang mundamental dalam islam.
PEMBAHASANAN
A. Defenisi akhlak (sikap) terpuji Secara etimologi
akhlak terpuji disebut juga akhlak mahmudah yang merupakan bentuk maf’ul dari kata hamida, yang berarti di puji. atau akhlak karimah (akhlak mulia). Akhlak mahmudah berarti tingkah laku terpuji yang merupakan tanda kesempurnaan iman seorang hamba kepada Allah SWT. Akhlak terpuji menurut imam Al-Ghazali merupakan sumber ketaatan dan ketaqwaan kepada allah swt. Sehingga, mempelajari dan mengamalkannya merupakan kewajiban individual bagi setiap muslim. Dari pendapat imam Al-Ghazali tersebut dapat disimpulkan bahwa akhlak terpuji adalah tingkah laku atau sikap yang mencerminkan kepribadian baik seseorang dalam perbuatan, ucapan, maupun perilaku sesuai syariat agama islam yang telah diajarkan Rasululloh SAW.Sedangkan defenisi perilaku atau akhlak terpuji secara terminologi adalah sikap atau perbuatan seorang muslim baik dari segi perkataan ataupun tingkah laku yang sesuai dengan tuntunan ajaran islam dan norma-norma yang berlaku. Yang dapat meningkatkan derajat seseorang di sisi Allah SWT dan juga dalam pandangan manusia. Karena memiliki akhlak yang baik merupakan perkara atau perihal yang sangat penting.
B. Pentingnya kejujuran
Pentingnya kejujuran dapat dilihat dari hadits nabi saw, yang artinya” aku akan menjamin rumah di tepi surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan meskipun bersifat gurau, dan aku juga menjamin rumah di surga yang paling tinggi bagi orang yang berakhlak baik.” Hadits ini berisi janji allah kepada orang yang tidak ingin berdusta meski hanya bergurau.artinya jujur adalah syarat terbentuknya krakter terpuji.
C. Kejujuran membawa kebajikanDalam kehidupan sosial,
kejujuran menjadi kunci keberhasilan individu dalam membangun relasi dan memperluas jaringan interaksi antara sesama manusia. Kejujuran juga membawa pada kebaikan seperti dalam kesehatan. Dimana mengamalkan perilaku jujur dapat meningkatkan kesehatan terutama sakit kepala, sakit tenggorokan dan ketegangan. Juga dapat mengurangi kecemasan atau kehawatiran.selain mengalami peningkatan kesehatan berperilaku jujur juga memiliki damfak positif pada perbaikan hubungan dengan orang lain.Kejujuran juga merupakan pembeda antara orang yang beriman dan orang yang tidak beriman. Artinya sifat jujur menjadi salah satu kriteria orang yang bertaqwa. Selain itu pembalasan bagi orang yang jujur dan berbohong juga berbeda, orang yang jujur akan mendapatkan kebajikan berupa anugra dari allah. Sedangkan, orang yang berbohong akan mendapatkan sanksi berupa siksaan dari allah swt. Sebagaimana firman allah swt dalam yang artinya, “allah memberikan balasan kepada orang yang benar itu karena kebenarannya, dan menyiksa orang munafik yang dikehendakinya. Atau menerima taubat mereka, sesungguhnya allah maha menerima taubat dan maha penyayang. ( Q.S Al Ahzab ayat 24).
Kesimpulan
Perilaku jujur merupakan sifat yang mulia yang berada pada diri rasul.dan orang yang memiliki kejujuran adalah mereka yang mengetahui kebenaran sebagai sesuatu yang nyata.
DAFTAR PUSTAKA
AlQur’an Al Karim, terjemah. 2005, Jakarta: PT. Al Huda Pelita Insan Indonesia.Sa’adudin Mukmin, Abdul, 2006, meneladani akhlak nabi membangunKepribadian muslim, Bandung: Rosdakarya.Isa Qadir Abdul, 2011, hakikat tasawuf, Jakarta Selatan: PT Ufuk PublishingHouse.Syukur Agus, 2022, akhlak terpuji dan implementasinya di masyarakat, jurnal Kajian islam dan masyarakat, vol.3, (2).
Tags
dakwah dan media PMI