Masuk Kubur Tanpa Bekal, Laksana Mengarungi Lautan Tanpa Bahtera

 Masuk Kubur Tanpa Bekal, Laksana Mengarungi Lautan Tanpa Bahtera 


    Dalam kehidupan yang fana ini, manusia sering kali terjebak dalam keindahan dunia yang memukau. Segala pencapaian, harta benda, dan kekuasaan menjadi tujuan utama yang dikejar tanpa henti. Namun, apakah semua itu cukup untuk menemani kita di perjalanan abadi kelak? Sebuah perumpamaan bijak menggambarkan betapa tragisnya seseorang yang masuk ke dalam kubur tanpa bekal, layaknya seorang pelaut yang mencoba menaklukkan lautan luas tanpa bahtera. Di tengah gelombang yang bergulung dan angin yang menerpa, tanpa kapal yang kokoh, mustahil ia mencapai tujuan. Begitu pula dengan kehidupan manusia. Tanpa bekal amal, ilmu, dan keimanan, mustahil seseorang dapat melewati perjalanan akhirat dengan selamat. Perumpamaan ini mengingatkan kita pada hakikat kehidupan, di mana dunia hanyalah persinggahan sementara, dan akhiratlah tujuan abadi.  

    Ketika seorang pelaut mengarungi lautan, ia tidak hanya membutuhkan kapal yang kuat, tetapi juga peta, kompas, serta perbekalan yang cukup untuk bertahan hidup. Begitu juga dengan manusia yang akan menghadapi kehidupan setelah kematian. dalam buku nasehat untuk hamba karya Muhammad Nawawi bin Umar Al Jawi di halaman  25 disebutkan bahwa Abu bakar Assiddiq meriwayatkan: barang siapa yang masuk ke dalam kubur tanpa membawa bekal (amal soleh) maka ia laksana mengarungi lautan tanpa bahtera. Kubur adalah pintu pertama menuju akhirat, tempat di mana setiap amal perbuatan akan menjadi penentu nasib seseorang di kehidupan berikutnya. Jika seseorang masuk ke dalam kubur tanpa bekal amal yang cukup, ia akan menghadapi kegelapan, kesendirian, dan kesulitan yang luar biasa. Amal kebaikan yang kita lakukan selama di dunia ibarat perbekalan yang kita siapkan untuk perjalanan panjang. Tanpa bekal itu, kita hanya akan tersesat, terombang-ambing oleh gelombang dosa dan ketidaksiapan, tanpa arah dan tujuan yang jelas.  

    Ironisnya, banyak manusia lupa bahwa kehidupan ini hanyalah sementara. Ketika kesenangan duniawi menjadi fokus utama, mereka cenderung mengabaikan tanggung jawab spiritual yang jauh lebih penting. Kegemaran mengumpulkan harta, mengejar popularitas, atau meraih jabatan sering kali membuat manusia lupa untuk bersedekah, berbuat baik, dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Seakan-akan, dunia menjadi tempat tinggal abadi, padahal semua itu hanyalah titipan yang suatu saat harus dipertanggungjawabkan. Bahkan, ada yang menghabiskan seluruh hidupnya untuk mengejar dunia, tetapi lupa bahwa harta, kekuasaan, dan prestasi tidak akan menemani mereka ke dalam kubur. Semua itu akan ditinggalkan, sementara amal perbuatanlah yang akan menjadi teman sejati di alam barzakh.  

    Mengapa banyak orang mengabaikan bekal ini? Salah satu penyebab utamanya adalah kesalahan dalam memahami prioritas hidup. Banyak orang beranggapan bahwa waktu untuk mempersiapkan diri menghadapi akhirat masih panjang, sehingga mereka menunda-nunda untuk bertaubat dan berbuat kebaikan. Padahal, kematian adalah rahasia yang tidak seorang pun dapat mengetahuinya. Ia bisa datang kapan saja, di mana saja, tanpa memberikan tanda-tanda. Menunda amal kebaikan sama halnya dengan membiarkan diri terjebak dalam pusaran gelombang tanpa daya. Bayangkan seorang pelaut yang berpikir ia memiliki waktu lebih untuk membangun kapalnya, tetapi tiba-tiba badai datang dan menghanyutkan segalanya. Begitulah kehidupan ini; penuh dengan ketidakpastian yang mengharuskan kita selalu siap menghadapi akhir perjalanan.  

    Selain itu, gaya hidup modern yang penuh dengan kesibukan juga sering menjadi penghalang bagi seseorang untuk mempersiapkan bekalnya. Kehidupan yang serba cepat membuat banyak orang terlena dalam rutinitas, sehingga melupakan kewajiban spiritual. Mereka lebih sibuk mengejar pencapaian duniawi tanpa menyadari bahwa waktu yang mereka miliki semakin berkurang setiap detiknya. Hal ini diperparah dengan adanya godaan-godaan duniawi yang kian hari semakin mudah diakses. Teknologi, hiburan, dan budaya konsumtif menjadi distraksi yang membuat banyak orang kehilangan fokus pada tujuan hakiki kehidupan.  

    Namun, bukan berarti semua harapan telah hilang. Setiap orang memiliki kesempatan untuk berubah, selama ia masih diberi nikmat hidup oleh Allah SWT. Persiapan bekal untuk akhirat tidak memerlukan kemewahan atau kehebatan luar biasa, tetapi cukup dimulai dari hal-hal kecil yang konsisten. Misalnya, memperbanyak shalat, membaca Al-Qur'an, berzikir, bersedekah, dan berbuat baik kepada sesama. Semua amal kebaikan, sekecil apa pun, memiliki nilai yang sangat besar di sisi Allah SWT. Bahkan, senyuman kepada orang lain, membantu yang membutuhkan, atau menjaga lisan dari ucapan buruk pun dapat menjadi bekal yang berarti.  

    Selain beramal, penting pula untuk memperbaiki hubungan dengan Allah SWT melalui taubat. Taubat adalah langkah pertama untuk membersihkan diri dari dosa-dosa yang telah diperbuat. Dalam Al-Qur'an, Allah menjanjikan bahwa siapa pun yang bertaubat dengan sungguh-sungguh akan diampuni dosa-dosanya. Dengan demikian, taubat bukan hanya sekadar kewajiban, tetapi juga kesempatan untuk memperbaiki diri dan memulai perjalanan baru yang lebih baik. Setelah bertaubat, seseorang harus berkomitmen untuk menjaga dirinya dari perbuatan dosa dan terus meningkatkan amal ibadahnya.  

    Tidak hanya itu, bekal ilmu juga memiliki peran penting dalam mempersiapkan diri menghadapi kehidupan setelah kematian. Ilmu yang dimaksud adalah ilmu yang bermanfaat, baik untuk dunia maupun akhirat. Dengan ilmu, seseorang dapat memahami mana yang benar dan salah, mana yang baik dan buruk, serta bagaimana cara menjalani hidup sesuai dengan tuntunan agama. Ilmu pula yang akan membimbing seseorang untuk beramal dengan ikhlas dan penuh kesadaran, sehingga setiap perbuatannya memiliki nilai yang tinggi di sisi Allah SWT.  

    Pada akhirnya, hidup adalah pilihan. Setiap orang bebas memilih untuk mempersiapkan bekalnya atau mengabaikannya. Namun, satu hal yang pasti, perjalanan menuju akhirat tidak akan mudah tanpa persiapan yang matang. Sama seperti pelaut yang membutuhkan bahtera untuk melintasi lautan, manusia pun membutuhkan amal kebaikan untuk menghadapi kehidupan setelah kematian. Perumpamaan ini seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua bahwa hidup bukan hanya tentang mengejar kesenangan dunia, tetapi juga tentang mempersiapkan diri untuk kehidupan yang lebih abadi.  

    Penutupnya, kehidupan ini adalah ladang untuk menanam amal yang akan dituai di akhirat kelak. Setiap detik yang kita miliki adalah kesempatan untuk memperbanyak bekal, karena kita tidak pernah tahu kapan waktu kita akan habis. Jangan biarkan diri kita menjadi seperti pelaut yang terombang-ambing di lautan tanpa bahtera. Mulailah mempersiapkan bekal dari sekarang, sebelum semuanya terlambat. Sebab, pada akhirnya, hanya amal kebaikan yang akan menjadi teman sejati di perjalanan abadi menuju Sang Pencipta.  


Lebih baru Lebih lama